The Secret of 5 Elements: Terapi Sehat Bahagia yang Murah dan Praktis
The Miracle of 5 Elements Energy
Rahasia 5 Elemen untuk Cerdas dan Sukses seperti Sri Mulyani, Bill Gates, dan Steve Jobs

Energi 5 Elemen: Meditasi dan Hipnotis, Bahagia dan Stres

Efek Meditasi dan Hipnotis terhadap Gelombang Otak, Bahagia dan Stres

Oleh: Aleysius H. Gondosari

Pada hari Jumat tanggal 17 Juli 2009, dalam acara The Master di RCTI, salah seorang peserta season-4 melakukan hipnotis pada para sukarelawan. Sebelum mulai dihipnotis, para sukarelawan diseleksi dahulu. Ada yang ditolak, dan ada yang diterima. Bagaimana kondisi frekuensi gelombang otak mereka selama dihipnotis?Apakah ada perbedaan frekuensi gelombang otak ketika sedang dihipnotis dan ketika sedang bermeditasi? Berikut ini hasil analisa energi 5 elemen.

Pengertian Frekuensi 1 Hz, Bahagia, dan Stres:

Pembaca tentu sudah pernah melihat jam antik atau jam kuno yang besar dengan bandulannya. Bila jam hidup, bandulan akan bergerak ke kiri dan ke kanan dengan periode 1 detik. Bandulan ini kita sebut mempunyai frekuensi 1 Hz. Bila kita melihat gerakan bandulan ini, pikiran kita merasa cukup tenang. Bila bandulan bergerak lebih lambat, frekuensinya akan menurun di bawah 1 Hz, dan kita akan merasa lebih tenang. Sebaliknya, bila bandulan bergerak lebih cepat, frekuensinya akan naik di atas 1 Hz, dan kita akan merasa lebih terburu-buru dan gelisah.

Orang akan merasa lebih bahagia ketika otak dan pikirannya dalam kondisi tenang dengan frekuensi di bawah 1 Hz. Sebaliknya orang akan merasa lebih stres ketika otak dan pikirannya dalam kondisi gelisah dengan frekuensi di atas 1 Hz. Jadi 1 Hz merupakan batas antara gelisah dan tenang, antara stres dan bahagia.

Sukarelawan yang Ditolak dan yang Diterima:

Sukarelawan yang ditolak mempunyai frekuensi gelombang otak lebih rendah dari 1 Hz, yaitu 1/2 Hz. Sedangkan Sukarelawan yang diterima mempunyai frekuensi gelombang otak di atas 1 Hz, yaitu umumnya 2 Hz.

Perubahan Frekuensi Gelombang Otak Selama Dihipnotis:

Frekuensi gelombang otak sukarelawan berubah-ubah selama dihipnotis, berkisar dari 2 Hz hingga 12 Hz. Semakin tinggi tingkat stres mereka, frekuensinya akan semakin tinggi.

Para sukarelawan membayangkan mereka sedang naik roller coaster. pada awalnya, gelombang frekuensi otak masih 2 Hz. Ketika roller coaster mulai naik, frekuensi mereka naik menjadi 7 Hz. Ketika sampai pada tahap yang mengerikan, yaitu berputar 360 derajat,tingkat stres mereka naik dan frekuensi otak naik menjadi 12 Hz. Ketika roller coaster sudah berputar dan turun kembali, mereka menjadi lega dan frekuensi otak juga ikut turun menjadi 5 Hz. Semakin rendah roller coaster, mereka menjadi bertambah lega, dan frekuensi turun menjadi 3 Hz. Akhirnya mereka bisa melepas ketegangan dan frekuensi otak kembali menjadi 2 Hz.

Setelah itu, mereka diberitahukan bahwa mereka ternyata mengompol. Mereka mulai stres, dan frekuensi otak naik menjadi 3 Hz. Kemudian mereka sibuk membersihkan bekas ompol di celana. Frekuensi otak naik lagi menjadi 4 Hz. Setelah selesai membersihkan, frekuensi otak turun kembali ke 2 Hz.

Frekuensi Gelombang Otak Selama Meditasi:

Pada meditasi yang benar, frekuensi gelombang otak akan turun di bawah 1 Hz. Semakin tenang pikiran, frekuensinya akan menjadi semakin rendah. Dari 1 Hz, turun menjadi 1/2 Hz, 1/3 Hz, 1/4 Hz, 1/5 Hz, 1/6 Hz, dan bahkan bisa mencapai 1/7 Hz. Kita akan merasa lebih bahagia ketika frekuensi otak kita ada di bawah 1 Hz.

Gelombang Epsilon, Delta, Alpha, Beta, Gamma:

Dari hasil penelitian, gelombang Epsilon merupakan gelombang yang paling rendah, yaitu 1/2 Hz atau lebih rendah. Gelombang ini muncul dalam kondisi meditasi yang dalam dan hening. Dalam kondisi ini, orang dapat memperoleh inspirasi dan ide yang cemerlang.

Di atas gelombang Epsilon adalah gelombang Delta dengan frekuensi 1 Hz hingga 4 Hz. Kondisi stres muncul mulai 2 Hz ke atas. Setelah gelombang Delta, ada gelombang Theta dengan frekuensi 4 Hz hingga 7 Hz. Ini menunjukkan kondisi stres yang lebih tinggi. Setelah itu ada gelombang Alpha dengan frekuensi 8 Hz hingga 12 Hz. Ini menunjukkan tingkat stres yang sangat tinggi. Di atas itu ada gelombang Beta denga frekuensi 12 Hz hingga 19 Hz+. Ini menunjukkan kondisi super stres. Di atas gelombang Beta masih ada gelombang Gamma dengan frekuensi 24 Hz hingga 70 Hz.

Kesimpulan:

Dengan kondisi terhipnotis, otak kita dapat menjadi stres dengan frekuensi  2 Hz ke atas. Dalam pertunjukan hipnotis di atas otak bisa stres hingga frekuensi 12 Hz. Kondisi frekuensi otak paling rendah dalam kondisi terhipnotis adalah 2 Hz. Hipnotis juga bisa membantu menurunkan stres dari tinggi menjadi rendah. Dalam pertunjukan di atas, stres dari 12 Hz bisa diturunkan menjadi 2 Hz dalam waktu yang singkat. Tetapi dari kondisi 2 Hz menjadi di bawah 1 Hz, perlu bantuan meditasi.

Dengan meditasi, kita bisa memperoleh kondisi otak yang santai dengan frekuensi di bawah 1 Hz, dan menjadi lebih bahagia. Sedangkan dengan kondisi terhipnotis, otak orang yang dihipnotis memang dapat diturunkan tingkat stres-nya, tetapi masih di atas 1 Hz, yaitu 2 Hz. Bila penghipnotis tidak hati-hati, orang yang dihipnotis dapat tetap berada dalam kondisi stres. Dalam pertunjukan di atas, orang yang dihipnotis dapat menjadi stres dengan frekuensi  2 Hz ke atas.

Cara yang lebih aman untuk menurunkan stres adalah dengan meditasi. Dalam meditasi, kita belajar mengontrol otak dan pikiran kita sendiri agar menjadi lebih santai, tidak stres, dan menjadi lebih bahagia.

Selain dengan meditasi, kita juga dapat menurunkan stres dengan mengonsumsi makanan sehat yang mempunyai frekuensi sehat 1 Hz atau lebih rendah seperti tape singkong segar, tempe segar, mentimun segar, dan makanan sehat lainnya.

Salam Sehat Bahagia!

www.5elemen.com

2 comments to Energi 5 Elemen: Meditasi dan Hipnotis, Bahagia dan Stres

  • Yudho

    Yth Pak Aleysius,

    Pak, sy merasa sangat beruntung menemukan website ini. Sy merasa akan mendapatkan manfaat yang besar dengan membaca isinya.
    Pak, sy tertarik dengan frekuensi tubuh manusia.
    Bagaimana ya orang awam seperti saya ini mampu mendeteksi frekuensi tubuh saya sendiri?
    Terima kasih atas penjelasannya ya pak.

    GBU,
    Yudho

  • Terima kasih atas kunjungannya, Pak Yudho.
    Agar bisa mendeteksi frekuensi diri sendiri, tentu perlu latihan dan kepekaan.
    Untuk itu, perlu latihan meditasi, pernapasan, dan perlu mengonsumsi makanan sehat.
    Semoga bermanfaat bagi kesehatan Bapak.
    Salam Sehat Bahagia,
    aley

Leave a Reply

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.