The Secret of 5 Elements: Terapi Sehat Bahagia yang Murah dan Praktis
The Miracle of 5 Elements Energy
Rahasia 5 Elemen untuk Cerdas dan Sukses seperti Sri Mulyani, Bill Gates, dan Steve Jobs

Energi 5 Elemen: Negara Bahagia Bhutan

Indeks Bahagia dan Pola Energi Negara Bahagia: Bhutan

Oleh: Aleysius H. Gondosari

Beberapa waktu yang lalu, teman saya Hadi Prabowo memperoleh artikel yang sangat menarik dari Ade Gumilang, dan meneruskannya kepada saya, yaitu tentang negara bahagia Bhutan. Telah bertahun-tahun negara ini mengukur tingkat kebahagiaan penduduk dan negaranya dengan ukuran kebahagiaan Gross National Happiness (GNH), dan bukan dengan ukuran ekonomi Gross Domestic Product (GDP).

Bhutan disebut sebagai “Shangrilla di kaki gunung Himalaya” yang 97% rakyatnya menganggap diri mereka sangat berbahagia. Bukannya kebahagiaan yang berasal dari pemuasan nafsu dunia fana, melainkan berasal dari iman dan konsep tahu-cukup.

Orang Bhutan beranggapan kemiskinan yang sesungguhnya adalah apabila tak mampu beramal kepada orang lain, mereka sudah sangat puas asalkan memiliki sawah dan rumah.

Dikarenakan mereka adalah umat Budha, maka mereka tidak membunuh makhluk berjiwa, itulah sebabnya mereka mengimpor daging dari India. Namun demikian di atas meja makan jarang terlihat makanan jenis daging, melainkan makan sayur-sayuran atau produk dari susu sudah membuat mereka puas.

Pengalaman kebahagiaan Bhutan berasal dari Jigme Singye Wangchuck IV, sang mantan raja yang tidak mendahulukan perkembangan ekonomi melainkan mendirikan sebuah negara yang berbahagia sebagai amanah jabatannya, dengan kesetaraan, kepedulian dan konsep ekologi menyulap Bhutan menjadi negara besar dalam hal kebahagiaan.

Pada 2005, Bhutan menjadi fokus berbagai media besar seantero dunia, “Model Bhutan” ciptaannya, teori Gross National Happiness (GNH) yang ia usulkan memperoleh perhatian seksama masyarakat internasional dan menjadi tema pelajaran ilmu ekonomi yang digandrungi para pakar dan institut penelitian sebagian negara seperti AS, Jepang dan lain-lain. Konsep “baru” dalam pandangan negara maju pada abad-21 ini, di Bhutan diam-diam telah dijalankan selama hampir 30 tahun lamanya.

Yang disebut “Model Bhutan” ialah mementingkan perkembangan yang seimbang antara materi dan spiritual, perlindungan terhadap lingkungan hidup dan proteksi terhadap kebudayaan tradisional diletakkan di atas perkembangan ekonomi, standar untuk pengukuran perkembangan ini disebut Gross National Happiness (GNH).

Raja Wangchuk sangat memperhatikan pelestarian lingkungan hidup Bhutan, ia memberlakukan larangan merokok di seluruh negeri, melarang impor kantong plastik. Selain itu pemerintah menentukan, setiap orang setiap tahun minimal harus menanam 10 batang pohon.

Angka cakupan hutan belantara di Bhutan sebesar 72% berada pada urutan nomor 1 di Asia. Sebanyak 26% tanah di seluruah negeri dijadikan taman nasional.

Pada 2005 Bhutan memperoleh hadiah “Pengawal Bumi” dari Pelestarian Lingkungan Hidup PBB (United Nations Environment Programme, UNEP).

Demi melindungi lingkungan hidup dan kebudayaan mereka, Bhutan rela “mengurangi profit” dan mempunyai pertambangan tapi tidak dibuka.

Orang Bhutan beranggapan, “Kehidupan yang benar-benar bernilai, bukannya hidup di tempat dimana dapat menikmati materi tingkat tinggi, melainkan memiliki taraf spiritual dan kebudayaan yang kaya.”

Energi 5 Elemen Negara Bhutan:

Dari hasil analisa energi 5 Elemen, negara Bhutan mempunyai energi pada 5 Elemen. Ini merupakan hal yang luar biasa, karena biasanya suatu negara hanya mempunyai energi pada 3 elemen. Pola energi negara Bhutan adalah Air-Bumi-Api-Udara-Ether, dengan nilai Indeks Energi keseluruhan = +10.

Indeks Energi 5 Elemen atau 5 Elements Energy Index pada masing-masing elemen adalah:

  • Elemen Air = +2
  • Elemen Bumi = +2
  • Elemen Api = +2
  • Elemen Udara = +2
  • Elemen Ether = +2

Dari adanya kelima elemen ini, terlihat bahwa Bhutan memperhatikan kebahagian dari seluruh aspek kehidupan, yaitu adanya keseimbangan materi dan spiritual, dan bukan hanya mementingkan segi ekonomi saja, tetapi juga pelestarian alam.

Kebahagiaan memerlukan energi positif dari 3 elemen, yaitu elemen Air, Api, dan Udara.

Keseimbangan antara materi dan spiritual memerlukan energi positif dari 5 elemen, yaitu elemen pertama Bumi, elemen kedua Air, elemen ketiga Api, elemen keempat Udara, dan elemen kelima Ether.

Pelestarian alam memerlukan energi positif dari elemen Air, Api, Udara, dan Ether. Memperhatikan kebahagiaan rakyat juga memerlukan energi positif dari elemen Ether, Udara, Api, dan Air.

Sedangkan konsistensi untuk tetap mempertahankan pelestarian alam memerlukan energi positif dari elemen Bumi. Konsistensi larangan merokok untuk menjaga kesehatan rakyat juga memerlukan energi positif dari elemen Bumi.

Happiness Index atau Indeks Bahagia Penduduk Bhutan:

Rata-rata penduduk Bhutan mempunyai Indeks Bahagia yang positif, yaitu +3. Bandingkan dengan Indeks Bahagia rata-rata orang yang tinggal di kota-kota besar yang bernilai negatif -2, karena tekanan stres yang tinggi. Semakin besar nilai negatifnya menunjukkan tingkat stres yang semakin tinggi.

Nilai Indeks Bahagia berkisar antara +5 sampai -5. +5 berarti sangat bahagia, dan -5 berarti sangat tidak bahagia.

Sebenarnya Indeks Bahagia penduduk Bhutan telah berkurang sejak tahun 2007. Pada tahun itu, televisi mulai memasuki Bhutan. Sebelum tahun 2007, Indeks Bahagia penduduk Bhutan mencapai +5. Tetapi sejak televisi masuk, penduduk Bhutan mulai menjadi lebih konsumtif, sehingga saat ini Indeks Bahagia turun menjadi +3. Tetapi masih tetap menjadi Indeks Bahagia yang tertinggi di dunia. Hal ini sebenarnya juga disayangkan oleh para pengamat lingkungan dan pengamat Gross National Happiness. Mudah-mudahan penduduk Bhutan bisa meningkatkan kembali Indeks Bahagia-nya menjadi +5.

Kebahagiaan yang Holistik:

Semoga semakin banyak negara yang memperhatikan kebahagiaan bukan hanya dari aspek ekonomi dan bisnis saja yang cenderung menyebabkan stres, tetapi juga memperhatikan kebahagiaan dari keseimbangan materi dan spiritual, dari sisi kualitas hidup untuk rakyat seperti pemandangan yang indah, lingkungan yang hijau, udara yang segar, air yang jernih, dan makanan yang sehat.

Salam Sehat Bahagia!

www.5elemen.com

6 comments to Energi 5 Elemen: Negara Bahagia Bhutan

  • Luar biasa artikelnya Pak. Saya jadi membayangkan, andai saja ada satu daerah saja di Indonesia yang mau memulai prinsip Bhutan ini dari wilayah RT, kemudian RW, Desa/Kelurahan, lalu beranjak ke kecamatan hingga ke kota kabupaten atau kota madya. Kalau berhasil, mungkin daerah atau kota itu akan harum namanya dan menjadi contoh bagi kota-kota lain.
    Kalau kota bunga di Tomohon (Sulawei Utara) sendiri bagaimana Pak? Apa indeks bahagia kota tersebut bagus? Atau, di Indonesia ini kota mana yang indeks bahagianya tertinggi… Saya kok menduga paling di kota2 yg berhawa dingin atau yg kebudayaan masyarakatnya tetap lestari seperti di pulau Bali.
    Salam
    ez

  • aleysius

    Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya, Pak Edy.
    Kabarnya negara-negara maju berminat untuk mengadopsi pola Bhutan ini.
    Mudah-mudahan Indonesia juga tertarik.

    Beberapa kota atau daerah yang masih mempunyai Indeks Bahagia positif sampai sekarang antara lain:
    - Bukittinggi
    - Bali Utara

    Sebenarnya kota-kota besar di Indonesia juga mempunyai Indeks Bahagia positif, tetapi sayangnya itu terjadi beberapa puluh tahun yl. Bali Selatan masih mempunyai Indeks Bahagia positif 10 tahun yl. Yogya masih mempunyai Indeks Bahagia positif 15 tahun yl. Bandung masih mempunyai Indeks Bahagia positif 20 tahun yl.

    Mudah-mudahan dengan kesadaran pelestarian alam, semakin banyak kota dan daerah di Indonesia yang mempunyai Indeks Bahagia yang positif.

    Salam Sehat Bahagia!
    aley

  • Veronika Tanner

    Wah, saya jadi merinding baca indeks bahagia kota2 di Indonesia. Kok semuanya tinggal kenangan. Btw, saya lahir di Bukittinggi, mesti sering2 pulang kampung supaya bisa ngecharge kebahagiaan. Sebagai info saja, bbrp tahun yang lalu saya ke Bukittinggi dan memutuskan untuk jalan2 sendiri. Saya tinggal sepelemparan batu dari Novotel (sekarang The Hills). Saya muter kota, ke pasar atas, belanja hasil kerajinan tangan di toko langganan, dan balik lagi pulang ke rumah, hanya membutuhkan waktu 1 jam. Bayangkan, kalau di Jakarta 1 jam belum tentu cukup waktu untuk mencapai tujuan.

    Pak Aley, boleh saya copy paste artikel ini untuk temen saya (ex Don Bosco) yang kerja di Kementerian Lingkungan Hidup ya, tentu saja dengan memberikan informasi sumber.

    Thanks,

  • aleysius

    Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya, Bu Mei.
    Saya juga sempat ke Bukit Tinggi bersama keluarga tahun 2008.
    Menginapnya di seberang Novotel.
    Memang rasanya segar jalan-jalan ke Taman Budaya dan Kebun Binatang.
    OK, tentu saja boleh di copy paste ke teman. Mudah-mudahan bermanfaat untuk meningkatkan Indeks Bahagia di Indonesia.

    Salam Sehat Bahagia!
    aley

  • Veronika Tanner

    Thanks pak Aley, btw, itu jalan2 sendiri, dengan berjalan kaki lho. Hehehe.

  • aleysius

    Sama-sama, Bu Mei.
    Iya, jalan kaki 1 jam kira-kira 4 km.
    Kalau di Jakarta, mungkin baru sampai di mal terdekat, he..he..he..
    Salam Sehat Bahagia!
    aley

Leave a Reply

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.